trus, nemuin salah satu cerpen ini diantara tumpukan cerpen yang gak terdeteksi saking banyaknya (ciyeeee....bangga) Ini cerpen jaman-jaman gue masih di SMP. berasa banget kaku bahasa gue pas nulis. :) maklum, pemula. dan ini gue post cuma buat iseng-iseng aja. Sekaligus ngenang masa lalu, sih. Hahaha.... :D
gue post nya part demi part aja ya... :)
BERHENTI
di KAMU
Ini
kisah tentang cinta pertamaku. Dan sampai sekarang, aku belum tahu endingnya
akan gimana. Karena, cerita kami masih belum berakhir sampai sini aja. Aku
masih meyakini bahwa Tuhan akan memberi jalan terbaik antara aku dan dia. Bukan
berakhir dengan cara yang tidak jelas begini. Sampai sekarang aku masih
menunggu jalan itu. Aku akan menunggunya walau mungkin sebuah benih bunga akan
tetap menjadi benih dan gak akan pernah tumbuh. Walau benih itu, lama kelamaan
hanya menjadi sesuatu yang terpendam dalam padatnya tanah.
>>>>>
Pagi-pagi
sekali, aku sudah sibuk di kamarnya. bolak-balik dari sana kesini. Dari
utara-selatan, timur-barat. Terus keliling deh kayak kompas. Hehehe. Pasalnya,
ini hari pertamaku masuk SMA. Dan yang terlintas di benakku adalah sikap
senior-seniorku pas MOS nantinya. So pasti, seniorisme banget tuh.
Aku
duduk di atas kasurku. Melihat peralatan MOS yang wajib dibawa nantinya. Bola kaki yang udah aku mutilasi
jadi setengahnya, itu bakal jadi topi. Karung beras yang harus jadi tasnya.
Tambah lagi kertas karton gede yang harus aku kalungin di leher sebagai
identitas pengenal. Disitu lengkap tuh ada biodataku. Arghhh…ini buat aku gila.
Pengen
rasanya membenamkan diri di bawah selimut lagi daripada harus ke sekolah.
“Puuut….kamu mau sekolah apa nggak?” teriak Bunda dari lantai bawah.
Hwft…”Bentar,
Bun!!!”
Ini terpaksa…!!!!
Akhirnya, pagi itu dengan berat hati dan juga badan –hehehe- aku harus
memasuki gerbang “kegelapan”…-LEBAY AH,-
>>>>>
“Hei, nama kamu siapa?? Mana nih,
perlengkapan MOS kamu?? Niat sekolah apa nggak?” bentak seorang senior cewek
kepada. Mampus deh, aku lupa membawa semua peralatan gila itu. Ini bukan
kesengajaan, bener-bener gak sengaja!!! Padahal udah aku letak di mobil. Aisss…
“Sori, Kak, tinggal di rumah.” Aduh,
kenapa harus ad maslah sih, di hari pertama aku sekolah??? Kan, mending tidur
di rumah aja tadi mah.
“Oh, tinggal. Besok kepala kamu aja
yang tinggal gimana?” ujarnya lagi dengan ganas. Dia melotot kea rah aku. Ih,
makin jelek tau gak. Sumpah deh, aku paling males berhubungan dengan orang
kayak gini.
“Koq diem? Jawab dong,” bentak nya
lagi.
“Unnecessery question!!!” jawabku
sambil mandang dia. Benci banget deh, ada orang yang bersikap semena-mena gini.
Tampaknya, aku udah membangunkan
‘seekor singa betina’ nih. Semua orang memperhatikan kami. Aku hanya diam
menunduk sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Daripada gak ada
kerjaan, lagian kakak senior di depan ku ini malah asyik berceloteh gak jelas.
Haruskah aku mendengarnya??
“Ri, ada apa nih???” Tanya seorang
cowok yang mendekati kami.
Itu Rizki bukan??? Aissh,,, aku lupa
sama anak satu ini. Padahal kemarin aku cerita-cerita sama dia tentang
kegelisahan aku untuk sekolah besok. Aku tahu, dia bersekolah di SMA yang bakal
jadi sekolahanku ini. Tapi, aku gak tau kalau dia salah satu panitia MOS-nya. Kulihat
dia sedang berbicara dengan “singa betina” itu.
Mereka sedikit berdebat. Dan akhirnya,
tuh “singa betina” pergi meninggalkan kami. “Put, daritadi aku nyariin kamu.
Eh, malah disini dimarah-marahin. Kasian bener..” ujarnya.
“Ngapa gak bilang kamu jadi salah satu dari mereka. BĂȘte nih,” sungutku sebal.
“Makanya, besok jangan lupa bawa
peralatannya…”
Aku hanya diam. Koq berasa aneh gini
ya? Ini perasaan malu atau apaan nih??
“Ya udah, balik ke kelompok kamu sana!
Tenang aja, aku bakal jaga kamu koq,” ujarnya sambil tersenyum.
Aku hanya diam terpaku. Maksudnya apaan
tuh??? #GUBRAK#
>>>>>
Akhirnya, “4 hari penyiksaan” pun
berakhir. Selama itulah aku menjadi buronan senior-senior sok kuasa itu. Dan
setiap aku ‘disiksa’ sosok Rizki pasti selalu hadir pada saat yang tepat. Hal
itu selalu dilakukannya. Alhasil, semua orang berpikir aneh tentang kami.
Saat aku membahas hal itu dengannya dia
hanya membalas cuek. Seolah-olah itu tidak ada baginya.
Rizki, dia teman terdekatku dari kecil.
Umurnya 1 tahun di atasku. Sosok hitam manis yang selalu mengisi hari-hariku. Dia
baik dan mengayomiku layaknya kakak-adik. Keluarganya sangat dekat dengan
keluargaku walau kami tak punya hubungan keluarga, dan saking dekatnya bisa
disebut One Big Family. Hwehe ….
Perhatian
dan rasa kasihnya yang ia tunjukkan padaku membuatku merasa spesial. Maka tak
dipungkiri, rasa ini muncul di hatiku. Rasa suka sekaligus sayang terhadapnya.
4 tahun aku memendamnya. Haha… aku tau, umurku masih muda waktu itu. Tapi, kita
gak tau kan kapan rasa itu muncul dan ditujukan pada siapa. Semua hadir
tiba-tiba.
>>>>>
Pagi
ini, aku ke sekolah bersama Restu. Teman ku dari kecil juga. Tapi tak seperti
Rizki. Aku dan Restu teman satu komplek, ia pindah kesini sewaktu umur 6 tahun.
Dan langsung menjadi akrab denganku. Teman, sekaligus saingan terberatku dalam
pelajaran.
Saat
kami memasuki kelas, semua orang bersorak mengelu-elukan nama RESTU. Aku
sendiri merasa bingung. Restu juga bertampang sama denganku. Sama-sama blo’on
karena kebingungan. Kami hanya langsung menuju bangku masing-masing.
Langsung
kutanyakan pada Icha, teman sebangkuku. “Kenapa sih, Cha? Heboh banget!!!”
“Loe
gak tau, Vi? Udah heboh gitu gosipnya…”
“Makanya
gue nanya sama elu…” ujarku gemas seraya mencubit pipinya yang tembem kayak
bakpao. Hihi… dia hanya cemberut sebal karenanya.
“Kamu
tau Kak Rizki kan? Dia yang digosipin sama elo. Ternyata, dia itu suka sama
Restu. Kabarnya pun, Kak Rizki mau nembak Restu.”
Aku
diam melongo. Benarkah itu semua? Apa ini mimpi?? Kucubit tanganku. Sakit!!!
Dan ini nyata. Ah, kenyataaan yang menyakitkan. Rizki tak pernah cerita padaku
mengenai semua ini. Dan aku pun tak pernah sedikit pun berusaha kepo mengenai
kehidupannya. Biasnya, dia akan langsung cerita jika terjadi sesuatu. Apapun itu.
Untuk hal yang satu ini, entahlah.
Kualihkan
pandanganku pada sosok Restu yang sedang tertawa. Lesung pipit menghiasi
wajahnya. Matanya indah dengan hiasan bulu mata lentik. Tubuh yang langsing.
Dia memang lebih baik dariku…
>>>>>
Sore yang cerah, aku duduk di pohon sembari
menantikan jingga yang kan tiba. Ini sih, kebiasaan yang sering kulakukan saat
tak ada kerjaan. Terkadang aku juga sembari bermain gitar. Menyanyikan
lagu-lagu sendu untuk mengobati hati yang pilu. Hehe. Burung-burung pun
beterbangan ikut menari. Bukan menari sih, lebih tepatnya kabur menghindari
suaraku.
Pernah
suatu hari saat sedang asyik menyanyi. Tiba-tiba ada yan jatuh tepat mengenai
tanganku. Iuh, itu kotoran burung!! Ah, aku sadar, mereka diam-diam akan
melakukan perlawanan terhadapku. Untuk beberapa hari, aku tak lagi bertengger
disitu. Hanya untuk membuat mereka merasa menang. Hal itu terbukti dengan
seringnya aku mendengar mereka bercicit ria setiap sore dibandingkan hari-hari
biasanya. Tak akan kubiarkan. Dalam beberapa hari kemudian pula, aku kembali
lagi sambil membawa gitarku. Hahaha…
“Vio…aku
merindukanmu!!!” seru sebuah suara yang sangat bisa kutebak.
Dalam
sekejap, sosok itu telah hadir di sampingku. Untung saja dahan ini cukup kuat
menahan beban kami. “Kurang kerjaan!!” Kupukul bahunya. Dia hanya terkekeh.
Kami
pun sama-sama terdiam kembali. Menikmati angin sore yang terasa hangat. Menandakan
kalau sore itu cerah. Kupandangi Rizki dari samping. Hmm.. dia sedikit mengulum
senyum. Entah apa yang dipikirkannya.
“Vi,
aku lagi suka sama cewek,” ujarnya mendadak.
DEG!
Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa gugup dan tegang? Dia melihat ke arahku dan
tersenyum. Apa maksud senyuman itu? “Kamu tau koq, orangnya.”
“Siapa?”
tanyaku gugup. Jantungku makin berdegup kencang. Ah, perasaan apa ini?
Cemaskah? Atau…
“Restu..!”
tuturnya. Aku melongo selama beberapa saat. Jadi, inikah perasaan tak enak yang
kurasakan daritadi? Aku mendesah, berat. Kenapa terasa pedih ya?? Apa ini
namanya patah hati?
Kucoba
tuk tersenyum saat ia melihatku. Entahlah, apa ia melihat Kristal-kristal
bening di mataku yang kutahan sebisaku agar tak jatuh. Kenyataan yang
menyakitkan, ya.
“Dia
pantas untukmu, Ki…” ujarku tersenyum, pedih.
>>>>>
#PART I :)